Wamena, 29 Juli 2026 – Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Pokja Papua Sehat menggelar audiensi dengan Direktur RSUD Wamena untuk membahas penguatan sistem pelayanan kesehatan di Papua Pegunungan, termasuk implementasi 11 layanan prioritas nasional, kendala operasional rumah sakit, serta upaya peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat.
Direktur RSUD Wamena, dr. Charles Christian Ratulangi, Sp.OG, Subsp. Obginos, FISQua, mengatakan RSUD Wamena saat ini menjadi rumah sakit pengampu bagi delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan. Sebagai rumah sakit rujukan regional, RSUD Wamena mengembangkan 11 layanan prioritas nasional, antara lain layanan kanker, kesehatan ibu dan anak, stroke, jantung, mata, kesehatan jiwa, tuberkulosis respirasi, diabetes melitus, gastrohepatologi, uronefrologi, dan infeksi emergency.
Menurutnya, Kementerian Kesehatan melalui program transformasi layanan kesehatan telah memberikan dukungan berupa peralatan medis dan pelatihan tenaga kesehatan. Pada 2026 RSUD Wamena dijadwalkan menerima bantuan CT Scan, sedangkan pada 2027 akan memperoleh fasilitas Cath Lab.
Dalam pertemuan tersebut, BPP Papua Pegunungan Pokja Papua Sehat, Gaad Piramid Tabuni, S.P., M.M., menyoroti pemanfaatan dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk sektor kesehatan. Direktur RSUD Wamena menjelaskan bahwa kebutuhan operasional rumah sakit masih cukup besar, terutama untuk pengadaan obat, pemeliharaan alat kesehatan, perbaikan fasilitas, pengelolaan limbah medis, serta biaya logistik yang tinggi akibat kondisi geografis Papua Pegunungan.
BPP juga menyoroti persoalan sarana dan prasarana, pengelolaan limbah, sanitasi, serta keterbatasan sumber daya manusia. RSUD Wamena masih membutuhkan tenaga pendukung seperti ahli elektromedik, akuntan, tenaga hukum, dan tenaga administrasi guna menunjang pelayanan rumah sakit.

Sementara itu, Nizmawati Abd Rahim, SKM., MKM., mempertanyakan tingginya antrean pelayanan yang kerap menjadi keluhan masyarakat. Direktur RSUD Wamena menyampaikan bahwa rumah sakit melayani sekitar 200 pasien setiap hari. Antrean dipengaruhi oleh kendala jaringan internet pada sistem verifikasi pasien, belum adanya pemisahan jalur pelayanan pasien baru, kontrol, dan rujukan, serta keterbatasan ruang rawat inap yang menyebabkan masih adanya daftar tunggu pasien operasi.
Melalui audiensi tersebut, BP3OKP Pokja Papua Sehat menegaskan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi RSUD Wamena merupakan bagian dari tantangan sistem kesehatan regional Papua Pegunungan. BPP akan menjadikan hasil pertemuan ini sebagai bahan rekomendasi kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk memperkuat pembiayaan, sarana dan prasarana, pengelolaan limbah, pengembangan SDM, serta peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan di Papua Pegunungan.






