WAMENA – Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Provinsi Papua Pegunungan terus mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan melalui pengembangan pendidikan tenaga kesehatan lokal yang berkelanjutan dan sesuai kebutuhan daerah.
Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan koordinasi dan evaluasi program pendidikan mahasiswa kesehatan yang melibatkan Pokja Papua Sehat dan Pokja Papua Cerdas Badan Pengarah Papua (BPP) Provinsi Papua Pegunungan bersama Poltekkes Kemenkes Jayapura Program Studi D-III Keperawatan Wamena, Senin (13/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan Pokja Papua Sehat BPP, Nizmawati Abd Rahim, SKM., MKM dan Oliphina Rumbekwan, SKM., M.Kes., perwakilan Pokja Papua Cerdas BPP, Yaberius Kogoya, S.IP., serta Ketua Program Studi D-III Keperawatan Wamena, Suningsih Suabey, S.Tr.Kep., Ns., S.Pd., M.Pd.
Pertemuan ini membahas pengembangan pendidikan tenaga kesehatan lokal, dukungan pembiayaan pendidikan, kebutuhan tenaga kesehatan di Papua Pegunungan, serta strategi agar lulusan dapat kembali mengabdi di daerah asal masing-masing.
Perwakilan Pokja Papua Cerdas BPP, Yaberius Kogoya, S.IP, menegaskan bahwa pengembangan SDM kesehatan harus menjadi prioritas seluruh pemerintah kabupaten di Papua Pegunungan.

“Setiap kabupaten di Papua Pegunungan perlu memiliki program pendidikan keperawatan sebagai langkah strategis untuk menyiapkan tenaga kesehatan yang berasal dari daerah sendiri. Dengan demikian, kebutuhan tenaga kesehatan dapat dipenuhi secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Yaberius.
Menurutnya, dukungan pendidikan kesehatan merupakan investasi pembangunan manusia yang akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, perwakilan Pokja Papua Sehat BPP, Nizmawati Abd Rahim, SKM., MKM, menekankan pentingnya sinkronisasi antara program pendidikan kesehatan dengan kebutuhan tenaga kesehatan di lapangan.
“Mahasiswa yang memperoleh dukungan pendidikan dari pemerintah daerah merupakan aset pembangunan daerah. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka perlu diberikan kesempatan untuk kembali mengabdi dan memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah yang masih kekurangan tenaga kesehatan,” kata Nizmawati.
Ia menilai bahwa perencanaan pendidikan kesehatan harus diselaraskan dengan kebutuhan riil tenaga kesehatan agar manfaat program dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Oliphina Rumbekwan, SKM., M.Kes, menyoroti pentingnya pemerataan tenaga kesehatan hingga ke distrik dan kampung di wilayah Papua Pegunungan yang masih menghadapi keterbatasan pelayanan kesehatan.

“Pendidikan tenaga kesehatan lokal harus menjadi prioritas bersama karena putra-putri daerah yang dididik hari ini akan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di masa depan. Kehadiran tenaga kesehatan yang berasal dari daerah sendiri akan memperkuat pelayanan kesehatan yang lebih dekat dan lebih memahami kebutuhan masyarakat,” ungkap Oliphina.
Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan melalui program beasiswa dan pembinaan pendidikan guna mempercepat ketersediaan tenaga kesehatan lokal yang berkualitas.
Sementara itu, Ketua Program Studi D-III Keperawatan Wamena, Suningsih Suabey, S.Tr.Kep., Ns., S.Pd., M.Pd, menyampaikan komitmen institusinya dalam mendukung peningkatan kualitas SDM kesehatan di Papua Pegunungan melalui pendidikan dan praktik lapangan yang berkelanjutan.
“Kami berkomitmen menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap mengabdi di tengah masyarakat. Pendidikan keperawatan tidak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan, etika profesi, dan karakter pelayanan,” jelas Suningsih.
Melalui kolaborasi antara BP3OKP Papua Pegunungan, BPP, pemerintah kabupaten, dan institusi pendidikan, diharapkan pembangunan SDM kesehatan lokal dapat terus diperkuat sehingga mampu menghasilkan tenaga kesehatan profesional yang siap memberikan pelayanan hingga ke tingkat distrik dan kampung di seluruh wilayah Papua Pegunungan.






